Pesan utama Medsos jangan sampai mematikan perdagangan tradisional.

TUNGGAL BERITA

Sumut. Keberadaan perdagangan digital (e-commerce) seharusnya menambah sarana pemasaran (marketing) dan bukan malah mematikan perdagangan di pasar tradisional. Pelaku usaha juga harus beradaptasi secepat mungkin terhadap hadirnya platform perdagangan digital yang tidak mungkin terbendung kehadirannya.

Roy Fachraby Ginting SH M.Kn, akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) menyambut gembira dan mendukung upaya pemerintah dengan adanya kebijakan dalam rapat terbatas (ratas) di Istana Negara dengan membahas yang terkait revisi Permendag 50 Tahun 2020 tentang suatu Ketentuan Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik, yang tentunya pemerintah harus arif dan bijaksana dalam tata kelola pengaturan media sosial dalam transaksi perdagangan dan sarana promosi.

Menurut Roy, Kebijakan pemerintah ini tentu erat kaitannya dengan kehebohan soal TikTok Shop yang disebut “membunuh” UMKM lokal karena banyak menjajakan barang impor dengan harga murah dan hal ini tentu harus di kendalikan pemerintah agar ekonomi rakyat tidak padam akibat maraknya perdagangan elektronik dengan memanfaatkan media sosial, jelas Roy Fachraby Ginting, kepada media online tunggalberita.com(26/9/2023) melalui aplikasi whatsapp nya.

Dikatakannya, Pemerintah hendaknya membuat kebijakan yang mengatur media sosial (Medsos) dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif, mendorong kreatifitas dan inovasi, guna peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Peraturan dan ketentuan tata kelola dan regulasi yang mengatur transformasi digital harus dibuat holistik. Dengan begitu, perkembangan teknologi akan menciptakan ekonomi baru, bukan membunuh ekonomi yang sudah ada, tandasnya.

Dimana perkembangan teknologi informasi yang pesat tersebut harus betul-betul di arahkan serta di manfaatkan ke arah yang lebih positif untuk kemajuan bangsa kita, serta menambah pengetahuan, memperluas wawasan, menyebarkan nilai-nilai positif, optimisme, didasari integritas, kejujuran, toleransi, perdamaian, solidaritas dan kebangsaan, himbuh Roy

Jadi, dengan hadirnya platform perdagangan digital, menurutnya, tidak bisa sepenuhnya pindah dari transaksi fisik seperti di pasar tradisional. Perdagangan melalui media sosial (medsos) seharusnya tidak dan bukan menghabiskan/ mematikan pasar tradisional. Sangat mantab bila jadi penambah sarana marketing, kata Roy Fachraby Ginting yang merupakan Dosen dan Staff Pengajar Mata Kuliah Hukum Bisnis di Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU ini.

Roy juga mengharapkan agar pemerintah bisa menampung dan membuat kebijakan dalam mengatasi keluhan para pelaku jual beli online yang telah memprotes pembatasan media sosial yang dilakukan.
Mereka menganggap pembatasan media sosial dan layanan perpesanan instan ini mengganggu kelancaran kegiatan e-commerce.

Karena itu, Roy juga sangat mendukung pelaku usaha lapisan bawah harus juga mengenal teknologi, sehingga bisa menjaga iklim perdagangan agar tetap berjalan dengan baik.

“Kita harus memberi support sebisa mungkin dan menjaga supaya perdagangan ini tetap meriah di semua tempat, baik online maupun di pasar, karena teknologi informasi di media sosial banyak juga memberikan dampak yang negatif bagi masyarakat. iklim bisnis harus juga diatur agar adil dan fair, bukan lagi free trade tapi fair trade. Perdagangan yang adil, Negara harus hadir melindungi pelaku UMKM negeri kita yang fair. Jangan sampai barang di sana banting harga murah pedagang kita yang menjerit dan ekonomi kita yang hancur.

“Seperti yang kita lihat, akhir-akhir ini banyak berseliweran informasi yang meresahkan dan penipuan dalam perdagangan serta transaksi keuangan online yang dalam hal ini pemerintah harus mengatur dengan penegakan hukum yang tegas dan keras untuk menindak berita dan informasi bohong tanpa sumber yang jelas yang mengandung fitnah dan penipuan yang meresahkan masyarakat”, katanya.

“Pemerintah harus menata media sosial sebagai gerakan yang masif untuk melakukan literasi, edukasi, dan menjaga etika, menjaga keadaban kita dalam bermedia sosial dan tentunya gerakan ini penting untuk mengajak netizen untuk ikut/turut meng-kampanyekan bagaimana berkomunikasi melalui media sosial yang baik, beretika yang positif dan produktif, yang berbasis nilai-nilai budaya kita,”pungkas Roy Fachraby Ginting SH M.Kn juga dosen Filsafat dan etika di lingkungan Universitas Sumatera Utara ini.(Gunawan Tarigan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *